Feed on
Posts
Comments

Dangerous Anchors

Kenapa kalo lawan jenis bukan muhrim dilarang terlalu dekat atau
bersentuhan?

Supaya tidak terjadi “FIRING DANGEROUS ANCHORS” secara tidak sengaja!

Sebab dipastikan, strategi internalnya akan mengarah ke PERILAKU
tertentu yang nggak diridhoi!

Bau, Penampakan Wajah, Suara, Kulit, atau Tombol berbahaya lainnya.

Ikhwan Sopa
 http://islamic-nlp.blogspot.com

Why Islamic NLP?

Lagu itu netral. Boleh dan halal. Tapi sebagai muslim, menyanyikan lagu yang mendorong bunuh diri atau mendorong perilaku buruk pasti gak boleh dong.

Ilmu bedah itu netral dan halal. Tapi kalo untuk bedah kosmetik, maka muncul pertanyaan mana yang boleh dan mana yang tidak.

Begitu pula dengan berbagai keahlian dan ilmu lain, termasuk NLP.

Seorang muslim pan katanya harus konsisten dengan keyakinannya. Jadi, apa-apa harus di-reframe ke dalam sistem keyakinan kita. Itu menurut gue.

NLP, kebetulan adalah sebuah tool yang amat powerful. Banyak pembelajarnya menjadi lebih merasa “kaya” dan amat bersyukur setelah belajar NLP. Mereka berbeda-beda agama, dan mungkin malah ada yang atheis.

Maka, bagi seorang muslim, jika sesuatu itu bisa meningkatkan rasa syukurnya kepada Allah SWT, tidakkah itu sesuatu yang baik dan patut dikembangkan?

Sukses buat Anda…

Ikhwan Sopa
 http://islamic-nlp.blogspot.com

Bagaimana pun seorang pembelajar tentulah memerlukan para guru dan mursyid.

Jika Anda adalah:

Ahli Quran
Ahli Tafsir
Ahli Asbab Nuzul
Ahli Hadits
Ahli Siroh dan Sejarah
Ahli Bahasa Arab
Ahli Nahu Sharaf
Ahli Mantiq
Ahli Fiqh
Ahli Hukum Islam
Ahli Sastra Arab
dan sebagainya.

Tak perlu ragu untuk menyatakan diri dan bergabung sebagai Dewan Pakar dan Tim Penasehat di komunitas kita ini.

Tujuannya semata-mata agar kita tidak salah arah dan tetap dalam akidah, fiqh, serta syariat Ahluss Sunnah Wal Jamaah.

Terimakasih.

Ikhwan Sopa
 http://milis-bicara.blogspot.com

Asosiasi dan Disosiasi

Saya mau mulai diskusi dan pembelajaran kita.

Saya pernah mencari tahu apa sih WFO (Well Form Outcome) seorang muslim? Dari apa yang saya baca, inilah yang saya temukan (jika ada di antara saudara dan sahabat yang menganggapnya kurang presisi, mohon agar saya dikoreksi. Namanya juga belajar.)

WFO seorang muslim menurut saya adalah:

“KEBAIKAN DI DUNIA DAN AKHIRAT, TERHINDAR DARI SIKSA NERAKA”

Lantas, bagaimanakah SENSORY ACUITY atau latihan-nya secara NLP agar WFO di atas benar-benar menjadi WFO? Ayo Mas Teddi, urun rembug dong kira-kira bagaimana bentuk exercisenya supaya WFO itu mendarahdaging.

Yang kedua, mungkin ini lebih mendasar.

Ajaran terpenting dari Islam (menurut saya dengan kacamata NLP) adalah kemampuan-kemampuan untuk melakukan ASOSIASI dan DISOSIASI.

ASOSIASI - tenggelam sebagai pemeran semaksimal mungkin, menjadi pemeran secara 3D

DISOSIASI - menjadi penonton yang bijak, menonton layar atau foto dengan keberadaan kita di dalamnya.

Allah bukan bagian dari dunia melainkan Sang Pencipta, oleh sebab itu Allah jelas DISOSIATIF. Demikian pula Rasulullah SAW, sebagai manusia ia ASOSIATIF untuk memberikan berbagai contoh kehidupan yang manusiawi dan membumi. Pada saat yang sama beliau juga sangat DISOSIATIF dari kehidupan dunia dari segi kebendaan. Ini sangat tercermin dari berbagai sabda yang beliau ungkapkan.

Contoh DISOSIASI:

Hidup adalah permainan

Abu Bakar yang memohon kepada Allah SWT agar “dunia di letakkan di tangannya dan bukan di hatinya”

Hidup untuk dunia seolah akan hidup selamanya (DISOSIASI)
Hidup untuk akhirat seolah akan mati besok pagi (ASOSIASI)

Saat senang melihat ke atas (ASOSIASI), saat susah melihat ke bawah (DISOSIASI)

Beberapa training begitu diminati karena punya sisi spiritual, misalnya ESQ atau Kubik Leadership. Keduanya, sangat kental mengajarkan DISOSIASI. Itu sebabnya, dunia cenderung dipandang dalam konteks anggota alam semesta yang begitu kecil dibandingkan dengan keseluruhan alam semesta.

Monggo, silahkan dielaborasi berbagai hal yang secara khusus bisa diterjemahkan dalam konsep ASOSIASI dan DISOSIASI.

Keterampilan seorang muslim untuk pandai melakukan ASOSIASI dan DISOSIASI pada saat yang tepat, Insya Allah akan menghindarkan dirinya dari tenggelam dalam fenomena dunia yang kita yakini “hanya permainan” dan “tempat singgah sementara”.

Saya tunggu pengayaan dari sesama rekan muslim.

Ikhwan Sopa
 http://milis-bicara.blogspot.com

ISLAMIC NLP

Assalamu’alaikum wr.wb.

Alhamdulillah, shalawat serta salam kita sampaikan kepada junjungan kita Rasulullah SAW.

NLP atau Neuro Linguistic Programming adalah sebuah keahlian terapan. Kurang lebih, NLP berarti pemrograman berbasis NEURO (syaraf dan berbagai implikasi kinestetiknya) dan LINGUISTIK (bahasa). Atau, NLP bisa juga berarti pemrograman yang ditujukan untuk membentuk NEURO (strategy syaraf yang bermuara pada PERILAKU) tertentu dan LINGUISTIK (perilaku berbahasa) tertentu.

NLP diciptakan untuk tujuan me-MODEL perilaku orang-orang yang dianggap sukses dan berhasil, atau berbagai sikap dan perilaku yang dipersepsi sebagai “best practice”, “excellent”, “terbaik”, “bisa dijadikan contoh”, dan sebagainya, dengan harapan hasil akhir yang akan diperoleh juga kurang lebih sama sukses dan berhasilnya.

Praktisi NLP bisa dipersamakan dengan seorang programmer di dalam dunia IT. Seorang programmer dalam dunia IT, membuat program dengan BAHASA pemrograman tertentu dengan hasil akhir berupa APLIKASI (mis. MS Word, MS Excel, dll) yang kemudian di-INSTALL pada komputer sehingga komputer itu ber-PERILAKU tertentu dan berjalan di atas template yang disebut dengan OPERATING SYSTEM (mis. MS Windows XP, Unix, dll).

Programmer NLP, membuat program dengan BAHASA tertentu untuk menghasilkan APLIKASI yang di-INSTALL kepada diri manusia sehingga menunculkan PERILAKU tertentu yang berjalan di atas sebuah OPERATING SYSTEM yang secara umum disebut dengan BELIEFS SYSTEM.

NLP mempercayai bahwa manusia adalah makhluk yang utuh sebagai sebuah sistem SIBERNETIK, di mana MIND, BODY, dan SOUL adalah satu kesatuan yang utuh dan saling berpengaruh. Perubahan dalam salah satu elemen itu akan menciptakan perubahan pada sistem manusia secara keseluruhan.

MIND dan BODY, melibatkan berbagai hal dan di antara yang terpenting adalah memori atau ingatan, syaraf, otot, panca indera (VAKOG - Visual/Penglihatan, Auditory/Pendengaran, Kinestetik/Perasaan/Perbuatan, Olfactory/Penciuman, Gustatory/Pencecapan/Lidah/Rasa) dan sebagainya.
NLP berfokus pada STRUKTUR dan bukan CONTENT. Ia berfokus pada berbagai fenomena dan proses, tentang bagaimana suatu CONTENT bisa tercipta. Ia lebih banyak berbicara tentang HOW ketimbang WHAT.

Dunia sudah membuktikan bahwa NLP adalah sebuah tool yang sangat powerful untuk mencapai berbagai target dan cita-cita serta merubah dan memperbaiki berbagai sikap dan perilaku manusia. Ini sudah diterapkan dalam berbagai bidang seperti bisnis, komunikasi, pelatihan, olah raga, leadership, manajemen, manajemen karir, hubungan pribadi, dan sebagainya.

Mereka yang berhasil me-MODEL keberhasilan orang lain, cenderung mendapatkan hasil yang kurang lebih sama dengan orang yang di-MODEL-nya. Jika orang lain bisa, maka kita pun bisa. Pertanyaannya adalah BAGAIMANA?

Pada dasarnya, NLP berharap agar setiap manusia bisa menjadi manusia yang seluruh bagian sibernetika-nya, ber-KONGRUENSI satu sama lain. Menjadi manusia seutuhnya. Tidak saling bertentangan dan menuju ke satu titik tujuan.

Ini bukan robotisasi melainkan sebaliknya, memanusiakan manusia seutuhnya.

Bagaimanakah hubungan NLP dengan diri kita sebagai seorang muslim?

Dapatkah NLP memberi sumbangsih bagi peningkatan keimanan dan ketakwaan?

Dapatkah kita membuat program-program untuk di-INSTALL ke dalam diri dan menghasilkan PERILAKU tertentu yang makin islami dan berjalan di atas operating system AKIDAH dan KEIMANAN?

Akankah perubahan di dalam PERILAKU itu bisa ikut meningkatkan kadar IMAN dan TAKWA? Sebagaimana perkembangan, perubahan, dan tuntutan kebutuhan APLIKASI komputer pada akhirnya mendorong di-upgrade-nya sebuah OPERATING SYSTEM?

Saya yakin bisa!

Keimanan setiap muslim, dimanifestasikan dalam tiga fungsi:

1. Diikrarkan dengan hati.
2. Diucapkan dengan lisan.
3. Diamalkan dengan anggota badan.

Diri seorang muslim juga merupakan sebuah sistem sibernetik. Dalam konteks itu, manusia semestinya bisa menjadi manusia seutuhnya dengan meng-KONGRUEN-kan segala atribut kemanusiaannya. Operating System-nya adalah akidah, iman, dan takwa. Tingkat KONGRUENSI-nya bisa dipersamakan dengan ke-KAFFAH-annya sebagai seorang muslim.

Perubahan pada hati, lisan, atau anggota badan, akan memicu perubahan secara keseluruhan di dalam diri seorang muslim. Bahkan, dapat mengarah pada kebutuhan akan perlunya upgrade terhadap akidah, iman, dan takwa-nya.

Hati adalah CONTENT, dan hanya Allah SWT yang mengetahui isinya.

“Rahasiakan perkataanmu atau nyatakan, sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati.”
Al-Mulk:13

Lisan adalah struktur LINGUISTIK yang bisa di-MODEL dan ditingkatkan kemampuannya sehingga mengarah pada model LINGUISTIK dari para muslim yang dianggap “excellent”.

Amal dengan anggota badan, tidak dapat meninggalkan elemen kemanusiaan dalam bentuk panca indera, otot, serta emosi. Ini adalah bentuk KINESTETIK dan FEELING yang dihasilkan dari segala proses NEUROLOGIS di otak dan melibatkan seluruh panca indera serta otot dan emosi manusia. Ini juga bisa di-MODEL.

Lisan dan anggota badan adalah STRUKTUR yang bisa di-MODEL. Keduanya adalah hubungan-hubungan antara MIND dan BODY di dalam diri manusia.

Keselarasan dan ke-KONGRUEN-an di antara ketiganya, mengarah pada meningkatnya ke-KAFFAH-an seorang muslim.

“Sesungguhnya, kamu dapati dalam diri Rasulullah saw., SURI TELADAN yang sebaik-baiknya bagi orang yang mengharapkan (bertemu dengan) Allah dan yang mempercayai Hari Kemudian serta yang banyak mengingat Allah.”
Al-Ahzab:22

Bagaimanakah kita makin mampu dalam men-SURI TAULADANI (baca: me-MODEL) seorang Rasulullah SAW yang excellent?

Adakah sebuah tool yang bisa dikembangkan secara khusus untuk melakukan MODELLING semacam ini? NLP adalah salah satunya.

Bagaimanakah kita bisa meneladani NEURO dan LINGUISTIK beliau? Bagaimanakah kita bisa meneladani beliau dengan berbagai aktivitas anggota badan yang tidak hanya berupa gerakan, tapi juga dapat menyelami PANCA INDERA, FEELING, dan EMOSI beliau (SENSORY ACUITY-nya)?

Bagaimanakah caranya kita bisa menduplikasi PATTERN keimanan dari para sahabat dan tabi’in dan orang-orang sholeh lainnya, dalam STRUKTUR mind-body-nya?

Apakah yang bisa kita pelajari dari seorang sahabat Rasulullah SAW yang setiap kali mengambil air wudhu, wajahnya seketika terpucat-pucat? Apa yang terjadi padanya secara NEUROLOGIS yang memunculkan kepucatannya? Bagaimana dengan PANCA INDERA, FEELING, dan EMOSI-nya? Bisakah kita mempelajarinya lebih jauh sehingga bisa kita SURI TAULADANI dalam kenyataan perbuatan? Bagaimanakah proses LINGUISTIK di dalam dirinya, sehingga yang muncul adalah perkataannya, “Tahukah engkau kepada Siapa kita akan menghadap?”

Bagaimanakah fenomena NEUROLOGIS dan LINGUISTIK dari seorang sahabat, yang tidak merasakan sakit sedikit pun saat begitu banyak anak panah yang menancap di tubuhnya dicabut satu demi satu? Bagaimana ia meng-INSTALL suatu PROGRAM tertentu ke dalam dirinya sehingga mencapai fenomena itu?

Mengapakah ada fenomena aneh yang sering terjadi pada orang-orang sholeh?

Bagaimana bisa seorang ulama besar mampu menghalau jin dengan sekedar menitipkan terompahnya pada orang lain guna di-tutuk-kan pada kepala orang lain yang kesurupan? Apa yang ia INSTALL dan PROGRAM-kan pada orang itu dan pada orang yang kesurupan?

Bagaimanakah ceritanya, seorang sahabat bisa MERASAKAN api neraka seolah hampir menyentuh kulitnya? Bagaimana seorang sahabat bisa MENCIUM bau surga padahal belum pernah ke sana?

Tak seorang pun di antara kita pernah ke surga atau ke neraka. Bagaimanakah kita bisa begitu sangat mengidam-idamkan surga dan tidak pernah bermimpi untuk masuk neraka? Itukah sebabnya Allah SWT mem-VISUAL-kan keduanya di dalam Al-Quran dengan sungai susu, emas, dan bidadarinya? Lantas bagaimanakah kita bisa mendarahdagingkan VISUALISASI itu ke bentuk yang makin utuh secara VAKOG?

Kok bisa sih, para sahabat dan orang-orang sholeh bisa dengan cepat menghafal Al-Quran dengan lengkap dan presisi di usia yang teramat muda? Photoreading-kah? Peripheral vision-kah? Bagaimanak mereka menentukan STRATEGI untuk MEMORI mereka?

Bagaimanakah kita bisa meningkatkan keyakinan kita akan kata-kata Rasulullah SAW dan teks Al-Quran begitu sempurna secara LINGUISTIK? Bagaimana me-MODEL-nya secara LINGUISTIK untuk kepentingan peningkatan iman dan takwa?

Bagaimanakah caranya Rasulullah SAW, para sahabat, dan orang-orang sholeh melakukan berbagai aktivitas ibadah dengan khusuk dan fokus? Apa STRATEGI mereka dalam meng-KONGRUEN-kan mind, body, dan soulnya sehingga mereka menjadi manusia-manusia yang utama?

Sesungguhnyalah, isi hati dan ukuran keimanan hanya milik Allah SWT. Pun demikian, setiap kita telah dianugerahkan mind dan body, yang ternyata persis sama dengan siapapun, kapan pun, di mana pun, secara NEURO, LINGUISTIK, VAKOG, FEELING, EMOSI, SYARAF, DARAH, OTOT, dan DAGING. Kita bisa belajar lebih jauh kepada mereka.

Semoga kita menjadi manusia muslim yang makin kuat dalam akidah, iman, dan takwa. Allahua’lam. Ammiieen Ya Robbal Al Amiin.

Mari kita belajar NLP ISLAMI demi meningkatkan keimanan dan takwa, demi akidah, dan demi ke-KAFFAH-an sebagai seorang muslim. Mari, dengan tetap berpegang teguh pada AKIDAH, IMAN, TAKWA, QURAN, HADITH, SYARA’ dan FIQH sebagai pegangan untuk OPERATING SYSTEM kita.

Silahkan bergabung di sini:

 http://groups.yahoo.com/group/i-nlp/?ygu…
 http://www.facebook.com/group.php?gid=34…
 http://islamic-nlp.blogspot.com

Wassalamu’alaikum wr.wb.

Ikhwan Sopa
Praktisi NLP

NB: Saya bukan seorang ustadz atau kyai. Saya hanya pembelajar. Saya tidak mengklaim bahwa keimanan dan ketakwaan saya telah memadai. Saya juga mungkin melakukan kesalahan dan kekhilafan, termasuk dalam tulisan di atas. Mari kita sama-sama memperbaiki diri di dalam komunitas ini.

Ambil Tindakan Sekarang!

Dari materi oleh:
Chuck Gallozzi

MENUNDA ITU TUMOR GANAS

Masih ingat “Little House On The Prairie”? Michael Landon, salah satu orang terkenal yang kebetulan mati cepat, pernah mengatakan begini,”Seseorang semestinya mengatakan kepada Kita, segera setelah Kita lahir, bahwa Kita baru saja memulai perjalanan menuju kematian. Kemudian, Kita jalani kehidupan sampai pada batasnya, setiap menit setiap hari. Lakukan! Apa pun yang ingin Kamu lakukan, lakukanlah sekarang! Apa yang disebut besok jumlahnya tidaklah terlalu banyak.”

Ia mengatakan hal itu saat ia menyadari bahwa dirinya mengidap kanker pankreas, di bulan Juli 1991. Ia meninggal di usia 54. Dengan reputasi dan buah karyanya, ia telah menunjukkan kepada Kita bahwa menunda-nunda adalah tumor ganas yang menghambat diri Kita dari pencapaian potensi yang maksimal. Dia telah memilih dirinya untuk menjadi manusia yang bertindak.

Apakah Kita akan menyadarinya, seperti Michael Landon, bahwa kemajuan Kita telah terhambat, bukan oleh apa yang ingin Kita lakukan dan tidak bisa, tapi oleh apa yang Kita inginkan dan tidak Kita lakukan?

BERTINDAK ATAU TIDAK BERTINDAK ADALAH PILIHAN

Mereka yang memilih bertindak, adalah mereka yang memilih untuk hidup. Dan hidup itu sendiri, adalah ekspresi dari berbagai tindakan. Kita selalu bisa memilih untuk bertindak atau tidak bertindak. Kita juga bisa memilih untuk benar atau salah. Kita juga bisa memilih untuk berbuat baik atau hanya merasa baik.

Pengalaman telah mengajari Kita tentang minimnya berbagai hal yang Kita lakukan, sedikitnya hal yang bisa Kita lakukan, banyaknya hal yang Kita lakukan dan banyaknya hal yang bisa Kita lakukan. Makin lama Kita berdiam diri, akan makin sulit bagi Kita untuk merangkak keluar dari pasir penghisap yang makin menenggelamkan. Sementara itu, setiap tindakan benar akan mendorong Kita maju, dan setiap tindakan salah akan menarik Kita mundur. Dengan kata lain:

- Tidak mengambil tindakan mengarah pada kelumpuhan;
- Tindakan yang benar mengarah pada kemajuan; dan
- Tindakan yang salah mengarah pada kemunduran.

Helen Keller, seorang wanita buta yang sukses mendunia, tidak menjadikan kebutaan dan sekaligus ketuliannya sebagai alasan untuk tidak bertindak. Sebaliknya ia berkata, “Saya ini cuma satu, dan tetaplah akan hanya satu. Saya tidak bisa melakukan segala hal, tapi Saya tetap bisa melakukan berbagai hal; Dan karena Saya tidak bisa melakukan segala hal, Saya tidak akan menolak melakukan berbagai hal yang masih bisa Saya lakukan.” Ia mengerti bahwa jika Kita ingin maju, Kita harus memulainya.

KITA TELAH DIBERI SK UNTUK BERKREASI

Pernahkah Anda mendapatkan ide yang bagus? Ya pasti! Kita semua pasti pernah. Tidak ada kata kurang untuk berbagai ide yang bagus. Yang ada adalah kekurangan dalam tindak lanjut.

Banyak dari Kita yang punya ide brilian, tapi gagal mengambil tindakan untuk merealisirnya. Berbagai ide hanya akan menjadi impoten, kecuali jika Kita tiupkan nafas kehidupan ke dalamnya. Sudah dari sononya, bahwa setiap Kita adalah makhluk kreatif. Dan Kita, tidak sama dengan hewan atau tumbuhan. Manusialah yang diberi kesempatan untuk berkreasi oleh-Nya.

Keberadaan berbagai benda yang berguna di sekitar Kita, menjadi ada dan berguna karena Kita — manusia dengan izin-Nya, mengkreasinya. Semua itu menjadi kekuatan kemanusiaan, dan kekuatan itu dilahirkan oleh berbagai tindakan.

Kita, bahkan juga diizinkan-Nya untuk ‘mengkreasi’ diri sendiri. Kelahiran Kita telah dititipi oleh pilihan itu. Kita menjadi berani dengan bertindak berani. Menjadi bersemangat dengan bertindak penuh semangat. Menjadi mengerti dengan bertindak untuk mengerti. Jika Kita terjebak dalam masalah, tindakan adalah derek yang akan menarik Kita keluar darinya.

Jika Kita terjebak dalam rundung kemalangan, apalagi obatnya jika bukan tindakan?

Apakah nasib Kita disegel oleh berbagai keadaan yang Kita hadapi, atau digerakkan oleh berbagai tindakan yang Kita ambil berdasarkan berbagai situasi itu?

Bagaimana Kita bisa mengalami kenikmatan pencapaian atau rasa kemenangan tanpa tindakan?

Tindakan adalah guru Kita, untuk ‘learning by doing’. Melalui tindakanlah Kita bisa mengontrol nasib Kita dengan membentuk masa depan dan menciptakan berbagai alasan untuk keberadaan Kita di dunia, di bawah alasan penciptaan oleh-Nya.

TINDAKAN ADALAH PERUBAHAN

Tindakan akan merubah Kita dari konsumen menjadi kontributor. Setiap tindakan yang Kita ambil adalah goresan kuas dalam lukisan kehidupan Kita. Kekuatan untuk bertindak adalah kekuatan untuk berkreasi. Itulah berkah terbesar untuk umat manusia dari-Nya. Alam semesta adalah simfoni sempurna cintaan-Nya, dan segala tindakan Kita menjadi nada-nada yang mestinya harmoni dengan aransemen-Nya.

Bagaimanakah lagi Kita akan mengetahui rupa akhir lukisan itu, selain dari mengibaskan kuas di atas kanvas?

Lantas, bagaimana Kita harus bertindak?

Ada ungkapan yang cukup bijak dari seorang Henri L. Bergson,”Berpikir sebagai manusia yang bertindak, dan bertindak sebagai manusia yang berpikir.” Karena beratnya akibat tindakan Kita atas dunia dan isinya, Kita harus berpikir sebelum bertindak. Kita harus bertindak dengan penuh tanggung jawab.

Kapan Kita harus bertindak?

Bagaimana dengan rentang waktu antara kemarin dan besok? Tak usah ditunggu yang namanya waktu sempurna, sebab waktu tak akan pernah sempurna sampai Kita mengambil tindakan di dalamnya.

Setiap hembusan nafas Kita diperhitungkan. Setiap hembusan nafas berarti bertahan hidup. Dan tindakan, adalah nafas dari jiwa Kita. Biarkanlah setiap hembusan nafas masuk hitungan.

Jangan campur aduk aktivitas tidak sungguh-sungguh, atau gerakan sederhana dengan TINDAKAN. Aktivitas tak berguna akan menghancurkan waktu, sementara tindakan akan menciptakannya. Menurut Robert L. Stevenson, “Nilailah setiap hari tidak dari panennya, tapi dari bibit yang ditanam.” Dan Robert J. Mckain mengatakan, “Konsepsi umum yang berlaku adalah ‘motivasi mengarah pada tindakan’, padahal yang benar adalah sebaliknya. Tindakanlah yang akan memicu motivasi.” Dan jika Kita muslim, setiap tindakan akan selalu berada di antara dua motivasi.

BERTINDAKLAH SEKARANG!

Kita tidak dijamin untuk sukses atas setiap tindakan yang Kita lakukan. Tapi ingatlah bahwa setiap doa pasti didengar dan dijawab. Sukses tidak bisa dicari dalam keuniversalan, ia ada di dalam kekhasan. Definisikanlah sasaran dengan tepat, dan pecahlah ia menjadi serangkaian langkah dan tindakan. Lalu: ACTION!

Lupakah Anda, bahwa Andalah sang sutradara?

Ikhwan Sopa
Trainer E.D.A.N.
http://milis-bicara.blogspot.com

Materi dari University of Texas at Austin Learning Center dan Chuck GallozziPENUNDAAN ADALAH KUBURAN DI MANA KESEMPATAN DIMAKAMKAN

Prokrasinasi atau procrastination, artinya penundaan atau menunda-nunda. Secara teknis, apa yang ditunda adalah “memulai” dan “menyelesaikan”. Berapa banyak hal yang kita tunda setiap hari? Apapun alasan kita, menunda selagi kita bisa melakukannya sekarang, tidak lebih dan tidak kurang adalah menghambur-hamburkan peluang.

SEBAB-MUSABAB SIKAP MENUNDA

1. Kesalahan persepsi tentang hidup.

Sebagai manusia, kita tidak hanya menciptakan kata-kata. Sebaliknya, kata-kata juga membentuk persepsi kita. Ambil contoh kata “bekerja”. Kata ini punya konotasi negatif. Kita seringkali tidak melihatnya sebagai berkah, melainkan sebagai beban atau hukuman. Bekerja menjadi tidak nyaman dan tidak menyenangkan, dan karena itu, ia cenderung dihindari. Itu sebabnya, kita menjadi malas.

Kita sering mengatakan “mau berangkat kerja”. Bisakah Anda membayangkan kata itu diucapkan oleh Picasso, Mozart, Peter Pan, Radja, atau Ratu? Bisakah Anda membayangkan bahwa Dian Sastro mengatakan “saya mau berangkat kerja”? Sebagai seniman, mereka jelas lebih memilih kalimat “saya mau berkarya”. Apa sebabnya? Sebab mereka tidak merasa bekerja, melainkan merasa melakukan sesuatu yang disenangi atau dicintainya. Mereka merasa sedang menghasilkan karya besar. Apa artinya? Artinya, bekerja adalah media bagi mereka untuk menghasilkan berbagai masterpiece.

Dengan memahami bagaimana para seniman menikmati proses berkarya itu, kita bisa mencintai apa yang kita kerjakan.

2. Merasa kewalahan.

Kita sering merasa terlalu banyak tugas yang harus dikerjakan. Dalam hal ini, kita perlu mengingat bahwa sebuah perjalanan 1.000 kilometer, selalu dimulai dengan langkah pertama. Artinya, kita harus punya keberanian untuk memulai. Sebesar apapun impian Anda, jika Anda memecahnya menjadi berbagai paket kecil, maka Anda akan tetap bisa mencapainya, satu per satu.

3. Takut gagal.

Takut gagal juga bisa menciptakan penundaan. Misalnya seseorang yang bermimpi bisa menulis buku. Selama dirinya merencanakan untuk menulisnya “pada suatu hari kelak”, maka ia masih mungkin mencapainya. Jika ternyata ia berhasil memulainya dan kemudian bisa menyelesaikannya, tapi ternyata tidak ada yang membeli bukunya, maka…wah…..! Akan ada kegagalan.

Benarkah akan ada kegagalan? Bagaimana bisa ia gagal jika ia terus belajar dari berbagai kesalahan?

Jangan biarkan ketakutan menghentikan Anda. David J. Schwartz mengatakan, “Untuk menghadapi ketakutan, bertindaklah. Untuk semakin takut - tunggulah, berhentilah, tundalah.”

4. Sifat alamiah manusia.

Secara alamiah, kita sebagai manusia ingin menghindari sakit dan meraih kesenangan. Jika Anda melihat bekerja sebagai MENYAKITKAN dan menonton TV sebagai kesenangan, maka Anda cenderung menunda kerja dan memilih menonton TV. Jika Anda seperti ini, maka Anda termasuk “kaum sufi”, alias kaum yang suka tifi.

MENGAPA HARUS SEKARANG?

SAAT INI, kita semua sedang berada di sebuah terminal transit. Keberadaan kita hanya SEMENTARA, dan kita akan melanjutkan perjalanan. Terminal itu adalah HIDUP. Jadi apalagi yang kita tunggu? Waktu untuk melakukan berbagai hal secara berbeda, saat untuk menentukan prioritas, dan terus maju menuju kesuksesan, adalah SEKARANG. Kita tidak bisa lagi menunggu lebih lama.

Tidak perlu lagi Anda memperlakukan hidup seperti hujan. Anda menunggu sampai hujan reda, kemudian baru melanjutkan perjalanan. Hidup Anda bukanlah hujan. Hidup Anda adalah WAKTU.

Pakar Manajemen Waktu Alan Lakein mengatakan, “Waktu = Hidup. Sia-siakanlah waktu Anda, maka Anda menyia-nyiakan hidup Anda. Kuasai waktu Anda, maka Anda menguasai hidup Anda.”

Dan pedoman hidup Anda mengatakan, “Sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Kecuali mereka yang beriman dan beramal soleh.”

1. Tidak waktu untuk menunda.

Yang Chu (440 ~ 360 SM) mengingatkan kita, “Seratus tahun adalah hidup yang panjang. Belum tentu satu orang dari seribu yang akan mencapainya. Dan jika seseorang bisa setua itu, waktunya masih didiskon dengan kehidupan bayi dan masa kepikunan. Kemudian dikurangi lagi dengan saat tidurnya. Dikurangi lagi dengan masa sakitnya. Dikurangi lagi dengan masa sedihnya. Dikurangi lagi dengan masa takutnya. Maka jumlah waktu senangnya, hanya akan sepuluh tahun saja. Dengan begitupun, tidak ada satu jam pun yang tidak terbebas dari kekhawatiran.”

Austin Dobs: “Time goes by, katamu? Ah tidak. Waktu tetap di tempatnya. Kitalah yang pergi.”

2. Lebih cepat kita bertindak, lebih cepat kita belajar dari pengalaman, melakukan perbaikan, dan mendapatkan hasilnya. Ingatlah bahwa berbagai hal, akan kita lakukan lebih lama daripada yang kita bayangkan. Dan lagi, kita mungkin belum akan benar di saat pertama.

Kita tidak bisa memilih hari dan waktu di mana kita akan sukses. Tapi kita bisa memilih untuk melakukannya SEKARANG. Sekaranglah saatnya untuk merealisasikan bagian awal dari sukses kita.

3. Sekalipun segala sesuatu menuntut waktu lebih lama dari yang kita bayangkan, semua itu juga lebih mudah DILAKUKAN daripada dibayangkan. Keuntungan manusiawi ini akan hilang menguap jika kita terus menunda. Saat kita menunda, jumlah tugas akan bertambah, waktu yang tersisa akan menyusut. Saat kita ingin mewadahi segala tugas di gayung kecil waktu kita, kualitas upaya kita akan menurun drastis, dan risiko melakukan kesalahan akan menjadi lebih besar.

Ikhwan Sopa mengatakan, “Segala hal lebih berat di kepala daripada di pundak.”

Aidh Al-Qarni (pengarang “Don’t Be Sad” - “La Tahzan”) mengatakan, “Usahlah engkau tanggung beban dunia. Biarlah bumi saja yang menanggungnya.”

Delegasikan tugas Anda ke bumi, lewat jiwa dan raga Anda.

4. Bertindak SEKARANG adalah kesimpulannya.

Kekuatan Anda bertindak hanya ada pada SEKARANG. Anda tidak bisa bertindak BESOK, sebab besok belum tentu ada. Anda tidak bisa bertindak KEMARIN, sebab kemarin sudah tiada. KEMARIN dan BESOK tidak bisa membantu Anda. SEKARANG-lah yang bisa.

5. Konsekuensi dari tindakan positif akan mendongkrak nilai, rasa PD, pengetahuan atau pemahaman, dan KEKUATAN Anda. Adakah waktu yang lebih tepat untuk menikmati semua keuntungan itu selain SEKARANG?

6. Nikmati hidup Anda SEKARANG, daripada melihat orang lain menikmati hidupnya. Jadilah pemain dan bukan penonton. Daripada menonton apa yang terjadi pada diri Anda, ciptakanlah apa yang Anda inginkan terjadi pada diri Anda.

7. Temukanlah diri Anda. Kejutkanlah diri Anda, buatlah diri Anda terperangah dengan menjadi seseorang yang Anda sendiri tidak pernah membayangkannya.

8. Anda pernah menyesali waktu yang telah Anda sia-siakan? Jika ya, gunakan penyesalan itu untuk memacu Anda. Dengan bertahan pada prioritas, Anda akan melindungi diri sendiri dari penyesalan di kemudian hari.

9. Songsonglah kesempatan, dan kesempatan memang disediakan untuk mereka yang mengambil tindakan. Sekali ia menampakkan diri, Anda harus segera bertindak karena ia tak akan muncul dua kali. Kesempatan adalah cacing yang menunggu early bird.

10. Jika Anda menyibukkan diri, Anda tak akan punya waktu untuk mengeluh atau jatuh di bawah pengaruh negatif orang lain.

11. Ciptakan lebih banyak waktu! Jika Anda selalu mengerjakan sesuatu segera setelah ia muncul, maka Anda telah efisien dalam bertindak. Dan dengan begitu, Anda akan punya lebih banyak waktu.

12. Alamilah kedamaian pikiran. Anda tidak akan bisa mengerjakan semua hal yang Anda inginkan. Akan tetapi, jika Anda bisa mengerjakan hal terpenting yang harus dikerjakan, maka Anda akan tidur dengan nyenyak.

Jadi kapan? Bagaimana dengan pertengahan antara kemarin dan besok!?

MERUBAH SIKAP MENUNDA

Penundaan adalah kuburan di mana kesempatan dimakamkan. Jika waktu adalah kehidupan, maka penyia-nyian waktu adalah pembunuhan. Artinya, penundaan itu MEMATIKAN.

Abraham Lincoln mengatakan, “Berbagai hal akan datang kepada mereka yang menunggu. Akan tetapi, itu semua hanya sisa dari mereka yang bergerak.”

1. Klarifikasi sasaran pribadi.

Klarifikasilah sasaran pribadi Anda dengan tegas dan jelas. Pastikan Anda bisa melihat atau mengingatnya di mana saja. Apa yang “harus” adalah apa yang paling penting bagi Anda. Jika keadaan memang memaksa Anda untuk menunda, pertegas alternatifnya. “Saya mestinya belajar malam ini. Tapi saya terlalu lelah hari ini. Saya harus tidur. Saya AKAN belajar setelah solat Subuh.”

2. Ganti “harus” dengan “ingin”.

Saat Anda mengatakan “harus” melakukan sesuatu, secara tidak langsung Anda mengatakan “dipaksa” melakukannya. Anda jelas akan berontak. Penundaan adalah mekanisme pertahanan Anda untuk menghindari sakitnya sebuah pemaksaan.

Solusi bagi Anda, adalah memahami bahwa Anda memang tidak perlu mengerjakan apa yang tidak ingin Anda kerjakan. Mungkin akan ada konsekuensi serius dari sikap seperti ini. Namun Anda harus memahami bahwa Anda memang selalu bebas dalam memilih. Tak ada seorang pun, yang memaksa Anda bekerja atau berbisnis sebagaimana yang Anda lakukan saat ini. Anda telah menjadi seperti sekarang ini, adalah akibat dari segala keputusan yang telah Anda ambil dengan bebas selama ini.

Jika Anda tidak ingin menjadi dokter, padahal Anda sekarang adalah dokter, maka Anda menjadi dokter adalah karena Anda memutuskan untuk menjadi dokter. Jika Anda memang tidak ingin dipaksa menjadi dokter, katakanlah ‘tidak’ pada orang tua Anda misalnya. Jika Anda memilih untuk tidak pernah mengatakannya, maka profesi dokter adalah pilihan Anda sendiri. Dan jika sekarang Anda ingin beralih profesi, itupun adalah pilihan Anda sendiri.

Ingatlah bahwa kebiasaan menunda tidak terjadi pada seluruh area kehidupan seseorang. Seseorang yang jagoan menunda sekalipun, selalu punya satu atau beberapa hal yang tidak pernah ditundanya. Orang itu selalu punya pilihan untuk INGIN mengerjakannya.

Artinya, kebiasaan menunda-nunda bisa dikurangi dengan memahami keberadaan pilihan. Anda bisa memilih untuk INGIN atau HARUS mengerjakan sesuatu. Ubahlah keharusan mengerjakan sesuatu, menjadi keinginan untuk mengerjakannya.

3. Ganti “selesaikan” dengan “mulailah”.

Saat Anda merasakan bahwa pekerjaan Anda tidak pernah selesai, Anda akan merasa kewalahan. Berikutnya, godaan tentang waktu luang atau selesainya perkerjaan akan mulai mempengaruhi Anda. Anda mulai malas, dan akhirnya menunda atau membiarkan pekerjaan Anda terbengkalai. Anda telah menggeser prioritas Anda, hanya karena ingin menunda suatu pekerjaan. Ubahlah cara berpikir Anda. Pecahlah tugas Anda ke dalam paket-paket kecil. Apalagi yang harus saya kerjakan? Mana lagi yang harus saya mulai?

Gantilah:

“Bagaimana saya harus menyelesaikan semua ini?”

Menjadi:

“Langkah kecil apa yang bisa saya mulai sekarang juga?”

4. Ganti “all or nothing” dengan “better small than nothing at all”.

Berpikir bahwa pekerjaan Anda harus sempurna, akan mencegah Anda untuk memulainya. Percaya bahwa mengerjakan segala sesuatu yang duniawi haruslah sempurna, adalah resep untuk stress. Jebakan sempurna, akan membuat Anda terlalu banyak berpikir dan akhirnya menggeser tindakan ke menit-menit terakhir. Dengan itu Anda telah merasa menemukan jalan keluar. Kemudian, Anda mulai bekerja. Tapi tiba-tiba, Anda menyadari bahwa waktunya tidak cukup lagi. Kemudian Anda meminta penambahan waktu. Dan jika Anda mendapatkan waktu tambahan, Anda memulainya lagi dari awal. Kemudian Anda menundanya lagi. Kurang waktu - tambah waktu - kurang waktu - tambah waktu… sampai kapan? Anda tidak akan pernah sempurna!

Kesempurnaan manusia terletak pada keterbatasan dan kekurangannya. Jika manusia tidak lagi memiliki kekurangan dan keterbatasan, maka ia tidak sempurna lagi sebagai manusia. Beri izin pada diri Anda untuk menjadi manusia seutuhnya. Menjadi manusia yang sempurna, lengkap dengan batasan dan kekurangannya.

Pernahkah Anda temui software komputer yang sempurna? Alat yang sempurna? Benda yang sempurna?

Ketidaksempurnaan dari apa yang Anda kerjakan hari ini, adalah lebih baik daripada sesuatu yang sempurna tapi tak pernah terjadi.

5. Ganti “hu…hu…hu” dengan “ha…ha…ha”.

Ubahlah suasana kerja yang tidak nyaman dengan kegembiraan. Ciptakan jaminan bahwa Anda akan bekerja dalam kegembiraan. Untuk bergembira, Anda harus menciptakannya. Kegembiraan tidak tergantung pada suasana, tapi tergantung pada kemauan Anda.

Pernahkan Anda merasakan betapa beratnya beban kerja Anda? Panjangnya jam kerja Anda? Tanpa bergembira? Lembur melulu? Yang itu-itu juga?

Pastikanlah bagian yang bisa “bergembira” dari diri Anda. Kemudian, susunlah berbagai pekerjaan Anda di sekitar dan sekelilingnya. Maka, kegembiraan Anda akan terjamin. Anda bisa senang dengan utak-atik mobil? Lakukan itu dan tunjukkan kepada teman sekantor. Anda senang ikan hias? Taruhlah akuarium di meja kerja Anda. Anda senang musik? Belilah earphone agar tak mengganggu ‘kesenangan’ orang lain.

Sekilas, anjuran di atas seperi kontraproduktif. Sebaliknya, secara ekstrem justru membuat Anda lebih produktif. Inilah yang disebut dengan “reverse psychology”.

Dengan ’settingan’ seperti di atas, jika Anda mulai merasa berlebihan dalam bergembira, maka Anda akan mulai “ingin” bekerja. Anda tidak lagi merasa “harus” bekerja, tapi Anda memang menginginkannya. Motivasi Anda akan melejit. Itu terjadi karena Anda merasa sudah cukup bergembira. Libur yang terlalu lama, akan membuat Anda rindu pada kerja. Persis seperti pengangguran yang merindukan pekerjaan.

6. Gunakan “kotak waktu”.

Pecah tugas Anda ke dalam paket-paket kecil. Kumpulkan berbagai tugas kecil Anda itu, dan masukkan semuanya ke dalam kotak waktu Anda. Aturlah kotak waktu Anda untuk 30 menit. Kelompokkan tugas-tugas kecil Anda menjadi satu gugus tugas, yang seluruhnya dapat diselesaikan dalam waktu 30 menit atau kurang. Setelah 30 menit, hadiahi diri Anda sendiri dengan bonus yang sepadan, misalnya menonton TV, makan camilan atau hadiah lain yang cukup merangsang. Setelah itu, kerjakan lagi ‘paket 30 menit’ berikutnya, dan kejar hadiah yang lain.

Secara umum, Anda pasti punya daya tahan jika bekerja hanya 30 menit. Apalagi, jika hadiahnya cukup menggiurkan.

7. Terima diri apa adanya.

Terimalah diri Anda “apa adanya”. Berhentilah memikirkan “ada apanya” dengan diri Anda. Kebiasaan Anda menunda-nunda, mungkin membebani Anda. Untuk tidak menjadikannya penyebab stress lanjutan, terimalah diri Anda sebagai pembelajar:

- Beri waktu bagi diri Anda untuk berubah;
- Beri kesempatan bagi diri Anda untuk ‘naik’ dan ‘turun’;
- Hargai diri Anda untuk apapun yang Anda kerjakan;
- Sering-seringlah memaafkan diri Anda sendiri.

Setelah tanda seru berikut ini, segeralah kerjakan apapun yang Anda INGINKAN!

Ikhwan Sopa

Trainer E.D.A.N.
http://milis-bicara.blogspot.com

Older Posts »